Napak tilas kereta api di Erasmus Huis

Oleh Gilang Fauzi

Seorang pengunjung tampak asik menikmati foto-foto sejarah perkeretaapian di Erasmus Huis, Jakarta, Kamis (26/9). PT Kereta Api Indonesia menggelar pameran bertajuk The History ofIndonesian Railways selama 20 September - 20 Oktober 2013 di Erasmus Huis, Jakarta. Rumah Jurnalis

Seorang pengunjung tampak asik menikmati foto-foto sejarah perkeretaapian di Erasmus Huis, Jakarta, Kamis (26/9). PT Kereta Api Indonesia menggelar pameran bertajuk The History ofIndonesian Railways selama 20 September – 20 Oktober 2013 di Erasmus Huis, Jakarta. Rumah Jurnalis

Jakarta (Rumah Jurnalis) – PT Kereta Api Indonesia (KAI) menggelar pameran bertajuk The History of Indonesian Railways di Erasmus Huis, Jakarta, 24 September – 20 Oktober 2013.

Perhelatan yang menjadi bagian dari agenda program Pusat Pelestarian, Konservasi, dan Arsitektur Desain PT KAI itu digagas sebagai wujud kerja sama antara Indonesia dengan pihak Erasmus yang mewakili Belanda sebagai representasi dari bagian pionir cikal-bakal PT KAI.

“Di masa kolonial, Belanda telah menyumbang infrastuktur salah satu transportasi utama di Indonesia. Pameran ini menjadi semacam nostalgia yang mengingatkan kembali masyarakat pada sejarah berdirinya perkeretaapian Indonesia,” kata staff Pusat Pelestarian, Konservasi, dan Arsitektur Desain PT KAI, Tiar Sukma Perdana, Kamis (26/9)

Tiar mengaku, selain menyuguhkan informasi sejarah perkeretaapian Indonesia, pameran itu diselenggarakan sebagai bentuk edukasi bagi masyarakat luas bahwa PT KAI tidak hanya melulu melayani jasa transportasi, tapi juga turut memelihara riwayat perkeretaapian sebagai identitas sejarah Indonesia.

Di pameran ini pengunjung bisa melihat napak tilas perkeretaapian Indonesia lewat koleksi foto-foto, diorama, arsip literatur, peta awal jalur kereta, hingga miniatur lokomotif tua.

Informasi mulai dari pencangkulan pertama yang dilakukan  Gubernur Jenderal Hindia Belanda, L.A.J Baron Sloet van den Beele pada 1864 untuk membuka jalur awal kereta api, hingga berdirinya sejumlah stasiun kereta api setelah perluasan jalur kereta, tersaji rapi dalam deretan pajangan, baik foto maupun tulisan.

Bercahayakan lampu kuning temaram dan alunan lagu klasik yang mengisi ruang tenang berpendingin itu, pengunjung dibuat tenggelam menelusuri jejak sejarah perkeretaapian.

Sugandi (38), seorang pengunjung yang mengaku datang langsung dari Solo, mengaku terlena melihat suguhan pameran yang menurutnya dikemas secara apik.

“Saya memang ada tujuan lain datang ke Jakarta, tapi pameran ini justru jadi tempat pertama yang saya kunjungi,” kata Sugandi yang mengaku sudah menjadi penggemar kereta api sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Editor: Dwi Ari Ristianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s