Aksi berkelas dari The Raid

Image

Jakarta (Rumah Jurnalis) – Inti cerita dari The Raid sebenarnya sederhana. Rama (Iko Uwais), seorang perwira polisi elit baru, bersama tim elit polisi yang dipimpin Sersan Jaka (Joe Taslim), menyerbu sebuah blok apartemen kumuh yang menjadi sarangnya gembong narkoba pimpinan Tama Riyadi (Ray Sahetapi). Hanya di apartemen itu pula film ini berkutat.

Memang ada momen singkat yang cukup romantis ketika Rama mencium perut istrinya yang tengah mengandung untuk berpamitan, namun setelah itu film digiring pada adegan aksi laga yang tak berkesudahan.

Sejak awal Letnan Wahyu (Pierre Gruno) cemas melihat kondisi anak buahnya yang masih belum berpengalaman. Memberi kesan bahwa musuh yang dihadapinya saat itu bukanlah orang sembarangan.

Itu tergambar ketika Tama kehabisan peluru saat mengeksekusi mati tawanannya. Di adegan awal pengenalan sosoknya yang tanpa dialog itu, alih-alih mengisi ulang peluru yang ada di dalam laci, Tama malah memilih cara yang lebih sadis dengan menancapkan bagian runcing palu di tempurung kepala korban.

Kengerian membuat suasana apartemen kumuh itu kian muram. Di gedung yang temaram itu, tim elit dan puluhan anak buah mempertontonkan aksi baku tembak yang atraktif. Di sini, The Raid berhasil memperlihatkan betapa menegangkannya ketika sebuah tim elit berhadapan dengan musuh di medan tempur.

Suguhan utama dari film besutan Gareth Evans ini menampilkan aksi bela diri yang dikemas dengan apik, mengingatkan pada aksi akrobat Jackie Chan di film-film laganya. Setelah eksplorasi adegan baku tembak itu usai, Rama bersama segelintir tim elit kemudian berkelahi dengan pasukan parang. Di sinilah kemampuan bela diri Rama diuji. Iko berhasil menunjukkan ketangguhan perannya yang lugas dengan menampilkan aksi pertarungan yang berkelas.

Evans cukup cakap dalam memainkan irama film, mulai dari tempo cepat ketika tim elit bertarung dengan gembong pasukan Tama hingga adegan menegangkan yang dibuat lambat ketika mereka harus kucing-kucingan bersembunyi dari kejaran pasukan parang.

Puncak aksi perkelahian terjadi ketika Rama harus berhadapan dengan Mad Dog (Yayan Ruhian), tukang pukul yang menjadi tangan kanannya Tama. Dalam adegan pertarungan klimaks yang melibatkan Andi (Donny Alamsyah), kedua petarung yang menjadi koreografer utama film ini menampilkan gaya bertarungnya yang liar dan brutal.

Secara keseluruhan, film ini cukup menghibur dengan segudang aksinya yang berkelas sinema internasional. Sayangnya, terdapat drama dan intrik cerita yang kurang mendapat porsi lebih untuk dieksplorasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s