Mimpi legalisasi ganja Indonesia

Jakarta (Rumah Jurnalis) – Mersiknya lagu Frank Sinatra di Braga City Walk, Jumat (13/9) malam, membuat sekelompok pemuda yang melingkar bersila itu semakin merapat. Alih-alih tenggelam dalam nuansa relaks musik lounge, mereka malah memasang muka kusut dengan kening berkerut ke arah seorang pria tirus berkacamata.

Bandung (Rumah Jurnalis) - Kelompok dari Lingkar Ganja Nusantara berdiskusi di Braga City Walk, Bandung (13/9)

Bandung (Rumah Jurnalis) – Kelompok dari Lingkar Ganja Nusantara berdiskusi di Braga City Walk, Bandung (13/9)

“Perjuangan kita di sini lain dengan mereka yang di luar (negeri) sana. Hukum kita berbeda,” kata Dhira Narayana sambil melempar tatapan serius kepada sepuluh pria yang selama itu pula mengerubunginya, seraya menukas, “jangan tahu makenya doang, tapi juga harus awas, kita berurusan dengan hal yang sifatnya bukan main-main di luar sana.”

Dhira rupanya tengah berbagi edukasi tentang ganja. Setiap orang tentu langsung terbesit pada pemahaman masing-masing ketika mendengar nama itu. Persis kalimat yang digunakan Dhira untuk memulai diskusinya: “apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata ‘ganja’?”

Sebagai Ketua Lingkar Ganja Nusantara (LGN), Dhira menyibukkan diri dengan menggelar ragam aksi, pertemuan, dan misi penyebaran edukasi tentang ganja kepada masyarakat. Diskusi di mal sepi pengunjung itu digelar bekerja sama LGN Parahyangan, satu dari beberapa komunitas LGN lainnya yang tersebar di beberapa kota/ daerah Indonesia.

Edukasi yang dimaksud Dhira adalah pemupukan kerangka berpikir baru bagi masyarakat tentang nilai-guna dari ganja. Jika selama ini kebanyakan orang kadung mengidentikkan ganja sebagai narkotika, LGN menyuguhkan wawasan baru bahwa tanaman ganja memiliki faedah yang dianggap layak mendapat legalitas.

Ajang diskusi merupakan kegiatan yang rutin dilakukan LGN di Rumah Hijau-nya di Pulau Situ Gintung, Ciputat, Tangerang. Di sana, tiap akhir pekan LGN membuka kelas ‘Taman Kesadaran’ bagi siapa saja yang ingin bergabung untuk mendapat informasi obyektif tentang ganja. Nantinya, mereka yang mengikuti kelas tersebut diembani tugas untuk menyebarkan kembali edukasi yang didapat ke masyarakat luas, minimal kepada orang-orang sekitar yang mereka kenal, persis yang dilakukan Dhira di Braga, Bandung.

Berangkat dari komunitas yang mengusung kampanye di media sosial dengan nama Dukung Legalisasi Ganja (DLG) pada 2008, LGN mulanya terbentuk memanfaatkan momentum aksi kampanye internasional Global Marijuana March di Bundaran HI, Jakarta, Mei 2010.

Para pegiat saat itu sepakat membuat wadah yang bisa menampung aspirasi DLG untuk mewujudkan langkah konkret penyebaran (sosialisasi) informasi obyektif mengenai tanaman ganja dan manfaatnya bagi masyarakat luas. Di bawah naungan Yayasan Penelitian Tanaman Ganja (YPTG), LGN lantas mendapat ruang gerak untuk merealisasikan misinya, yakni legalisasi untuk pemanfaatan pohon ganja. Sejak itu Dhira aktif menjabat sebagai ketua pengurus LGN.

Setahun berselang, 2011 Dhira bersama Irwan Muhamad Syarif, salah satu pendiri YPTG, dan Ronald Carl Marentek, aktivis senior LGN yang lebih dikenal dengan sapaan Opa 420, menyusun sebuah kumpulan riset histori-ilmiah yang mengupas habis seluk-beluk tanaman ganja.

“Sampai sekarang buku ini menjadi satu-satunya pembuktian ilmiah tentang ganja. Belum ada satu pun yang mampu membantahnya,” kata Dhira sambil mengangkat buku berjudul ‘Hikayat Pohon Ganja’. “Semua fakta dijabarkan di sini,” lanjutnya.

Buku setebal 352 halaman itu memaparkan pembuktian riset histori-ilmiah dari tanaman ganja secara mendetail; tentang bagaimana dan mengapa biji, batang, daun, hingga bunganya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan medis, pangan, hingga tekstil.

Saat peluncurannya, ‘HIkayat Pohon Ganja’ medapat respons positif dari sejumlah akademisi seperti, misalnya, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat yang dalam sambutannya mengatakan: “Persepsi negatif (ganja) yang sudah tertanam demikian kuatnya pada masyarakat, hendaknya perlu kita luruskan bersama.”

Lebih frontal lagi, dari kalangan generasi muda semisal selebritas Pandji Pragiwaksono menulis di situs pribadinya, “Kalau yang elo tahu dari ganja cuman cimeng, dan kalau yang elo tahu adalah ganja itu 100 persen buruk tanpa manfaat positif, gue tantang elo kalau berani untuk membaca buku itu… coba untuk memahami sebelum memutuskan untuk membenci.”

Namun Dhira mengakui, “…tidak mudah untuk mengubah pandangan seseorang. Benar-benar tidak mudah,” kata Dhira berbagi kisah, “Saya datang ke beberapa kota di Indonesia ya tujuannya hanya untuk berbagi edukasi seperti yang saya lakukan ke teman-teman sekarang ini.”

Dhira menyayangkan, sistem perundang-undangan Indonesia telah mematikan peluang tanaman ganja untuk bisa dimanfaatkan. Penggolongan ganja sebagai narkotika kelas satu dianggap menghambat upaya penelitian dan pengetahuan mengenai manfaat tanaman ganja. Padahal, sejumlah negara besar di dunia telah menjadikan ganja sebagai komoditas industri yang mampu menghasilkan pendapatan besar serta pemenuhan kebutuhan medis masyarakat.

“Regulasi legalitas ganja dunia saat ini dikendalikan PBB. Ironisnya, empat negara besar yang tergabung di badan dunia itu mengendalikan industri pemanfaatan ganja,” kata Dhira, mengacu pada Inggris yang menjadi negara pemegang hak paten ganja medis; China dan Prancis sebagai produsen hemp terbesar pertama dan kedua di dunia; dan Amerika Serikat sebagai importir hemp terbesar dunia.

Namun Dhira mengakui bahwa hukum yang diterapkan di Indonesia itu berbeda dengan negara-negara maju yang lebih terbuka pada penerapan riset ilmiah sebagai bukti-uji pengajuan legalisasi.

Sebuah bahan perdebatan paling anyar muncul Agustus kemarin, ketika Dr. Sanjay Gupta, seorang ahli bedah saraf dan pimpinan koresponden bidang kesehatan CNN, mengakui kesalahannya telah menapikan ganja. Sebelumnya di majalah Time, Gupta tidak mengindahkan ganja dalam tulisannya yang berjudul ‘Why I Would Vote No on Pot’.

Dalam pengakuan terbarunya di CNN (8/8), ‘Why I changed my mind on weed’, Gupta secara terang-terangan berujar, “Kita secara sistematis telah disesatkan (pada pemahaman tentang ganja) selama hampir 70 tahun di Amerika Serikat, dan saya mohon maaf atas keterlibatan saya dalam hal itu,” aku Gupta.

Dalam tulisannya yang padat itu, Gupta merangkum alasan mengapa ganja penting bagi keberlangsungan hidup manusia, terutama di bidang kesehatan. Ada ratusan fakta yang ditemukan Gupta dalam bentuk artikel jurnal, ditulis sejak 1840, yang menggambarkan bahwa ganja medis bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit seperti “sakit saraf, kejang, dan kurus,” di antara banyak penyakit lainnya.

Belakangan Indonesia juga cukup dibuat kejut soal niatan pemanfaatan pohon ganja untuk kesehatan. Ketika itu Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku telah mendapat pemaparan ilmiah soal ganja dari seorang ahli farmasi yang berusaha membuktikan bahwa biji ganja bisa dijadikan obat jantung dan kanker.

“Kenapa BUMN tidak berpikir untuk mengolah ladang ganja menjadi sebuah alternatif obat dan kesehatan, daripada sering dibakar,” katanya kepada Antara News (24/4), menirukan pendapat si ahli farmasi.

LGN sendiri pada kesempatan aksi Global March Marijuana 2013 di Jakarta (4/5) mengusung tema isu yang disebut Dhira “petisi riset ganja medis kepada Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).” Aksi tersebut bertujuan untuk mengupayakan dibukanya kesempatan penelitian bagi pemanfaatan pohon ganja. Tantangan LGN itu tidak mendapat jawaban atau respons apapun dari pemerintah.

Meski tidak menentang aksi serupa yang pernah dilakukan LGN dua tahun sebelumnya, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla dengan tegas mengatakan, ganja tidak mungkin dilegalkan di Indonesia.

“Kita tidak mungkin melegalkan ganja karena berbahaya, ada takaran-takaran tertentu yang sangat berbahaya,” kata Kalla. Ia khawatir adanya penyalahgunaan ganja yang bakal membahayakan pengguna, namun di sisi lain ia juga mengiyakan bahwa ganja legal jika digunakan untuk kesehatan.

Inilah dilema yang dalam pengakuan Gupta disebut sebagai tantangan dalam mewujudkan penelitian terhadap ganja. Menurutnya ada dua hal penting yang dibutuhkan untuk bisa mempelajari kegunaan ganja.

Hal pertama yang dibutuhkan untuk penelitian adalah tentu ganja itu sendiri,kata Gupta. Namun bagaimana bisa hal itu dilakukan jika ganja menyandang status ilegal. Hal kedua yang harus didapat peneliti adalah persetujuan (pemerintah). Sayangnya, para ilmuwan yang ditanyai Gupta kebanyakan mengeluh tentang betapa melelahkannya usaha untuk bisa mencapai tujuan tersebut.

Langkah konkret yang dilakukan Dhira bersama teman-temannya di LGN saat ini adalah melayangkan pengajuan banding perkara legalisasi ganja ke Mahkamah Konstitusi. Dhira menganggap, digolongkannya tanaman ganja (cannabis sativa) sebagai narkotika kelas 1 dalam Undang-Undang No.35 tentang Narkotika tahun 2009 merupakan bentuk penghakiman yang tidak proporsional, karena “tidak sesuai dengan dengan kenyataan ilmiah dan dinamika (terhadap ganja) yang terus berkembang di dunia.”

Untuk itu kami sekarang di LGN tengah mengumpulkan hasil riset dan narasumber untuk mendukung legalisasi ganja di Indonesia… mudah-mudahan awal tahun depan kami sudah bisa melangkah ke MK,” kata Dhira.

Dhira mengaku sampai saat ini sudah ada dua guru besar dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia yang sudah menyatakan kesediaannya mendukung LGN menuju MK. LGN masih mengupayakan tambahan dukungan dari sejumlah tokoh/ praktisi lainnya di bidang, terutama, hukum, medis, industri-pertanian, dan agama untuk menyokong pondasi pengajuan bandingnya ke MK.

“Kami belum memiliki gambaran jelasnya seperti apa. Yang pasti, sistem dan mekanisme perubahan undang-undang di Indonesia memungkinkan warga negaranya untuk mengajukan gugatan terhadap melencengnya UU Narkotika dari konstitusi,” tukas Dhira.

Dengan pengawasan yang tepat, bukan tidak mungkin ganja diberi kesempatan mendapatkan pengkajian ulang demi membuktikan seberapa besar manfaat dari kegunaannya bagi khalayak. Tapi legalisasi itu kompleks. Mengubah paradigma yang sudah ada tidak semudah menggumamkan lagu ‘Fly Me to the Moon’ yang dinyanyikan biduanita molek di mal itu.

In other words, please be true… “

Satu-persatu pengunjung mal beringsut pulang. Tidak ada lagi lagu yang mengalun. Sebagian lampu dimatikan dan Braga City Walk kian temaram ditelan malam. “Saatnya pulang ke Rumah Hijau,” kata Dhira menyudahi diskusinya, “masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s