Kutemukan rumah di perantauan

Image

Oleh: Fianda Sjofjan Rassat

Jakarta (Rumah Jurnalis) – Hari berganti hari, malam berganti malam, ada yang datang dan pergi, namun pria itu tetap bersantai di emperan sebuah kedai internet di bilangan Pondok Bambu, seolah dunia tidak bergerak baginya.

Dia kadang dipandang sebelah mata di kedai yang menjadi tempatnya berlindung dari hujan dan terik matahari, namun pengunjung yang cukup lama menjadi pelanggan kedai internet itu pasti mengenalnya. Entah kenapa bagi pengunjung lama di sebuah kedai internet di pinggiran Jakarta, dia seperti punya tempat tersendiri.

Lima tahun lalu pria tersebut datang di kedai internet ini, dan kini masih duduk di emperan kedai yang seakan tempat itu adalah rumahnya.

Pria itu bernama Andi Santoso. Dia meninggalkan tanah kelahirannya di Padang pada 1988 untuk merantau ke Jakarta. Namun ada satu hal yang membedakan dia dengan perantau lainnya. Dia tidak datang ke Jakarta untuk mencari peruntungan. Dia datang ke Jakarta untuk mencari ayahnya yang meninggalkannya.

Bang Andi, begitulah dia akrab di sapa. Mereka memanggilnya demikian karena memang dia adalah yang tertua di antara semua orang yang ada di kedai tersebut.

Sambil duduk di emperan dan ditemani secangkir kopi serta sebatang rokok kretek, dia mulai bercerita tentang apa yang membawanya mengembara di ibu kota.

Pada 1988 Bang Andi meninggalkan kota kelahirannya di Padang dan menempuh jalan darat hingga ke Lampung, lalu melewati jalur laut hingga akhirnya tiba di Jakarta. Kala itu saya masih berusia 10 tahun.”

“Saya berangkat ke Jakarta tanpa bekal dan uang saku. Satu-satunya yang saya bawa hanya pakaian yang melekat di tubuh saya, serta alamat rumah ayah, fotonya, serta surat nikahnya dengan ibu saya.” ujarnya sambil menikmati kopinya.

Setelah tiba di Jakarta, dia mulai mencari ke sana kemari dan butuh waktu satu bulan bagi Bang Andi untuk bisa menemukan sang ayah, selama satu bulan itu juga dia hidup terlunta-lunta di jalanan ibu kota.

“Ayah saya juga dulu adalah perantau, dan saat saya datang ke rumahnya dia berkata, ‘karena kamu anakku, kamu bisa sampai di sini dengan kakimu sendiri.’, pastinya bukan pertemuan mengharukan seperti yang diperkirakan semua orang.” ujarnya dengan raut wajah serius.

Bayangan hidup tenang pada diri Bang Andi segera buyar ketika dia bercerita tentang ayahnya yang wafat tidak lama kemudian.

“Ayah saya wafat tiga tahun kemudian. Dia wafat pada usia 56 tahun. Keluarga besar saya memutuskan untuk membesarkan adik saya, tapi tidak dengan saya, mereka mengirim saya ke panti asuhan di Jakarta.”

Panti asuhan tempat Bang Andi dititipkan sama sekali tidak seperti yang dibayangkan. Di sana seluruh anak asuhnya harus bekerja mencari uang, pekerjaan seperti menjadi pengemis, penyemir sepatu, atau penjual koran. Dia juga mengatakab uang hasil jerih payahnya diambil oleh pihak panti, selain itu banyaknya aturan yang keras juga membuat banyak anak asuh panti tersebut menjadi tidak betah dan membuatnya memutuskan untuk pergi dari sana dan hidup menggelandang.

Preman jalanan

Hidup di jalanan membawa ke daerah Senen dan membuatnya menjadi dekat dengan dunia kriminal. Dan tidak butuh waktu lama untuk masuk ke dalamnya. Dia pun mulai bercerita tentang perkenalannya dengan dunia itu.

“Saya kemudian menjadi bagian dari sebuah geng preman. Kemudian sebagai orang baru saya dibawa menghadap bos para preman tersebut. Kemudian bos preman tersebut bertanya apakah saya masih sekolah dan kapan terakhir bersekolah. ”

“Mungkin kala itu penampilan saya tidak seperti anak jalanan, dan bos preman itu sepertinya enggan menjadikan saya sebagai bagian dari gengnya, saya malah dijadikan pembantu di sana.  Segala urusan mulai dari masak, mencuci, dan lain-lain menjadi pekerjaan saya.”

“Hal yang berkesan adalah bos preman itu menyekolahkan saya dan dia sangat keras ketika saya membolos, saya selalu dihajarnya ketika ketahuan membolos. Lagi-lagi hari-hari saya yang tenang itu tidak bertahan lama. Saya terpaksa kembali menggelandang karena geng tersebut bubar setelah sang bos tewas ditembak polisi.”

Bekerja di rumah makan padang

Setelah meninggalkan geng preman itu, Bang Andi kembali menggelandang dan tinggal di sebuah emperan rumah makan padang di bilangan Senen.”

“Pemilik warung itu adalah orang Padang dan ketika saya bicara dengan bahasa Padang, tatapan curiga mereka langsung hilang dan mereka mempersilahkan saya masuk ke rumah makan mereka, dan bertanya banyak hal. Setelah mendengar cerita saya, mereka menawarkan saya untuk bekerja dan tinggal di sana dan bahkan menyekolahkan saya.”

Lagi-lagi hal hidupnya yang tenang tidak bertahan lama, rumah makan yang sempat menjadi rumahnya terbakar. Bang Andi mengatakan bahwa sepertinya kejadian itu disengaja oleh beberapa orang yang kalah bersaing dengan rumah makan tempatnya tinggal.

Semua jalan telah di jalani dan segala cara telah dilakukan oleh bang Andi untuk sekedar bertahan hidup dan menyelesaikan sekolahnya untuk kemudian bekerja apa saja di beberapa kota di Indonesia.

Perantauan Bang Andi kemudian membawanya ke kedai internet ini, dan dia kadanga bertanya kenapa orang-orang disana menerima dia apa adanya tanpa bertanya siapa dirinya dan dari mana asalnya. Dia kerasan menumpang tinggal disana karena suasana yang tidak bisa didapatkan di tempat lain, serasa seperti rumah ujarnya.

Pria kelahiran Padang, 10 Oktober 1979 ini sering dianggap sebagai mentor oleh komunitas pelanggan kedai internet yang banyak beranggotakan anak muda tersebut, meski dia tidak merasa demikian.

Lima tahun sudah berlalu sejak dia menjejakkan kakinya di kedai internet itu, dan kini dia masih ada di sana, sambil duduk di emperan kedai sambil menikmati secangkir kopi dan bercengkrama dengan orang-orang yang ada di sana dan Bang Andi sepertinya tidak ingin meninggalkan kedai internet itu karena tempat itu seperti menjadi rumahnya.

Hidup menggelandang diperantauan membuatnya banyak merasakan getirnya hidup. Banyak dari sahabatnya yang juga adalah pelanggan di kedai internet itu tidak ragu untuk menceritakan berbagai keluh kesah mereka dalam menjalani hidup dan tidak jarang mereka juga meminta saran bagaimana menyikapi hidup ketika berada di persimpangan.

Tidak terasa dini hari sudah menjelang dan sebelum menutup pembicaraan dia mengucap satu kalimat yang sangat berkesan, “Seberat apapun masalah yang kamu hadapi, itu adalah cara Tuhan menyayangimu.” (fr)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s