Taring Babi diterima masyarakat dengan berkarya

Oleh: Alviansyah Pasaribu

marjinal 1

Foto 1 Bobby Marjinal sedang melayani permintaan warga untuk membuat undangan. Marjinal Taring babi adalah komunitas punk yang diterima baik oleh masyarakat sekitar. Alviansyah(13/9/13)

Jakarta (Rumah Jurnalis)- Setiabudi adalah nama sebuah gang di Jalan M. Kahfi 2, Jagakarsa, lebarnya hanya mampu dilalui dua buah sepeda motor saat bersamaan. Melangkah kedalam kita akan disambut dengan keramahan warga yang duduk di kursi-kursi panjang di depan rumah mereka.

Ujung gang ini bermuara pada sebuah kali kecil dengan jalan setapak yang terhubung ke sebelah barat kawasan perkampungan ternama milik warga Betawi, Setu Babakan. Tiga rumah sebelum ujung gang ini, tepatnya disebelah lapangan bulu tangkis terdapat sebuah bangunan berlantai dua.

Pagar besi berwarna hijau, hitam dan berkarat ini terbilang nyentrik dibanding rumah-rumah di sekelilingnya. Karena dibalik pagar tersebut terdapat pohon sirsak yang rimbun dan dipasang sebuah plang bekas rambu lalu lintas berwarna kuning yang dicat ulang bertuliskan “Alam Raya Adalah Sekolahku”.

Menjejakkan kaki selangkah dari pagar kita akan melihat mural berukuran 2×1 meter. Latar belakang berwarna merah jambu yang kusam. Di tengah mural tersebut tertulis dengan presisi sebuah kata “Marjinal” dengan warna merah darah.

Berjalan ke dalam kita akan melewati sebuah pintu kayu yang tertempel puluhan stiker dengan beragam bentuk maupun tulisan, sebagian terlihat sudah kusam. Sebuah rak buku terpasang di sisi jendela sebelah kiri. Rak yang terdiri dari empat susun dengan deretan teratas berjajar beberapa skripsi tentang Marjinal dari beberapa universitas dan buku-buku sejarah. Di baris kedua kita akan menemukan buku-buku politik. Baris ketiga dan terbawah ditempati komik, buku cerita terjemahan, buku teori semiotika dan beberapa karya Pramoedya Ananta Toer.

Image

Foto 2: Rak buku yang terletak di ruang tamu rumah kontrakan Komunitas Taring Babi.  Rak ini berisi buku komik hingga politik yang dapat dibaca para pengunjung. Alviansyah(13/9/13)

Di ruangan ini juga terdapat sebuah etalase kaca berisi banyak pernak-pernik hasil kerajinan tangan. Beberapa alat musik sederhana juga diletakkan di sudut ruangan seperti gitar akustik, gendang dan suling. Kita akan sulit mencari warna asli dari dinding ruangan ini, karena seluruh ruangan ini tertempel bermacam poster buatan sendiri, foto, maupun hasil kerajinan cukil kayu.

Saat diwawancarai di rumah kontrakan milik Haji Maman ini, jumat (13/9), Bobby, pria yang memiliki banyak tatto di tubuhnya ini bercerita. Dia dan Mikail menetap di rumah ini sejak Desember 11 tahun yang lalu.

Sebelum memutuskan untuk menetap dirumah ini Mike, sapaan akrab Mikail, dan Bobby sudah hidup nomaden sebagai pemuda punk. Tepatnya tahun 1997 mereka berdua dipertemukan. Memiliki kesukaan yang sama pada dunia musik dan aktif berkegiatan di komunitas bawah tanah, pada akhirnya mereka membuat sebuah komunitas yang berideologi punk.

Bobby dan Mike memilih punk karena didalamnya terkandung sebuah misi untuk mandiri. Secara global punk identik dengan etos kerja DIY (do it yourself). Itu berarti punk mengajarkan untuk tidak bergantung kepada negara melainkan dengan berkarya. Bobby dan Mike merasa bahwa punk mengajarkan mereka untuk berani bersuara. Selain itu membawa kemandirian tanpa harus bekerja dibidang yang tidak disukai.

“Punk, gue seneng dengan jalan ini.. apalagi gue dari dulu emang enggak pernah mau kerja sama orang lain. Ada konsep DIY, berdikari dan akhirnya coba terus gue dalemin dan waah ini nyaman buat gue” Bobby bercerita sambil menghisap rokok kreteknya.

22 Desember 1997 menjadi hari lahir Marjinal Taring Babi. Nama Marjinal Taring Babi terinspirasi dari kerakusan hewan tersebut dan menggunakan taring sebagai senjatanya. Secara jelas Bobby menjelaskan bahwa ada dua nama yang dijadikan satu, Marjinal dan Taring Babi. Marjinal itu nama kegiatan bermusik mereka. Dinamakan demikian karena menyanyikan lagu yang syairnya bercerita tentang masyarakat yang terpinggirkan. Sementara untuk Taring Babi digunakan untuk nama komunitas dimana Marjinal bernaung.

“…belajar dari babi mahluk yang rakus..artinya sama dengan simbol kapitalisme, rakus dan taringnya itu senjatanya, dan senjatanya udah kita gantungin di sini (menunjuk kalung yang Bobby kenakan). Sekaligus mengingatkan kita jangan rakus seperti babi.” Kata Bobby.

Pada akhir tahun 2002 komunitas ini memutuskan untuk menetap. Keputusan ini dilakukan untuk membentuk suatu komunitas punk yang tidak bersebrangan dengan masyarakat. Mereka berpendapat, untuk menghidupkan komunitas dibutuhkan tempat untuk berkarya secara terus menerus. Selain itu keharmonisan dengan masyarakat juga perlu dibangun untuk menjaga keberlangsungan komunitas.

“Kita bisa melihat gimana banyak komunitas dan organisasi hilang begitu saja. …penting banget punya tempat sendiri biar banyak nilai-nilai yang bisa kita gunakan. Dengan begitu kita akan menjadi bagian dari warga seutuhnya, gitu kan.” Mike menjelaskan.

Dua semester awal dilalui dengan bersusah payah. Mike dan Bobby menyadari bahwa tiap gerak-gerik mereka diawasi masyarakat. Membuat cela sekecil apapun seperti membuat onar, mabuk di depan umum dan tidak peduli dengan kegiatan di lingkungan, maka akan memupus harapan mereka untuk dapat hidup berdampingan dengan masyarakat.

Mereka berusaha tersenyum walau ditatap sinis tetangga yang merasa aneh melihat manusia dengan kulit dirajah aneka macam gambar. Turut serta kerja bakti dengan rambut berdiri seperti ayam jago. Bernyanyi dengan suara yang dipelankan karena khawatir mengganggu. Sampai pada akhirnya warga sendiri yang penasaran untuk berkunjung ke rumah kontrakan Marjinal.

“Bukannya mabuk dan berbuat onar, lho kok mereka malah jualan. Bukannya berkeliaran, kok malah jemur kaos sablonan dan sering bawa papan untuk ukiran.” Cerita Pak Badut, tetangga dekat rumah kontrakan komunitas Taring Babi.

Pernyataan senada juga diungkapkan Yamin (52), penduduk asli Setu Babakan yang bekerja sebagai penjaga pintu masuk dari gang Setiabudi.

“Itu anak-anak yang rambutnya gondrong berdiri gak rese. Nurut malah, ada kerja bakti pada ngikut. Ada lomba-lomba juga ikut jadi panitia. Mau bergaul gitu sama masyarakat, sama yang tua juga gak songong.” Kata Pak Yamin.

Marjinal Taring Babi tidak berbeda dengan punk pada umumnya. Sebagai sebuah produk kebudayaan impor, mayoritas pemuda punk mencari makan dari pertunjukan musik (mengamen maupun mentas di panggung), berjualan desain gambar, poster, membuat tatto, menyablon kaus, membuat gelang dan jual beli kaset.

Konsep berdikari yang menjadi misi punk mereka tuangkan melalui karya. Terhitung Marjinal sudah menetaskan lima album termasuk lagu-lagu untuk sebuah film Indonesia, Punk In love pada tahun 2009. Meskipun tidak rutin dipesan namun distribusi kaus buatan anak-anak marjinal sudah mencapai pulau Sumatera dan kota Makassar. Selain itu lusinan poster juga dijual di daerah Bekasi dan Jakarta Selatan.

“Nah setelah produksi sekalian membangun jaringan ke luar, maksudnya biasanya temen-temen di sini suka dapet orderan dari Sumatra dan Makasar melalui pake sistem paket. Mereka transfer, kita kirim barang.” kata Bobby.

Pendapatan yang mereka hasilkan tersebut digunakan untuk membiayai komunitas. Membayar sewa kontrakan setiap tiga bulan, membeli kebutuhan harian seperti makan dan minum dan sesekali melengkapi modal produksi yang mereka miliki. Seperti membeli alat musik, memperbaiki alat sablon maupun membeli banyak tinta untuk membuat poster.

Hasil sablon kaus taring babiFoto 3. Sisi kiri rumah kontrakan komunitas Taring Babi dijadikan tempat menjemur kaus. Kaus sablon dengan desain sendiri merupakan produk khas dari komunitas ini. Alviansyah (13/9/13)

Proses berdikari komunitas Marjinal Taring Babi inilah yang membuat mereka tetap bertahan sampai sekarang. Proses itu pula yang membuat mereka diterima baik oleh masyarakat. Bobby menceritakan bahwa warga sekitar tidak ingin Marjinal pergi. Dalam beberapa kali komunitas ini sempat kesulitan untuk membayar kontrakan. Tapi warga sekitar ada yang membeli lukisan, poster atau minta dibuatkan undangan. Sehingga ada uang untuk mereka membayar sewa rumah tersebut.

Marjinal berpendapat bahwa untuk bertahan hidup tidak bisa bergantung kepada negara. Negara tidak bisa mengurusi secara detail kebutuhan masyarakatnya. Marjinal juga mengambil contoh bahwa warga Indonesia itu lebih baik berdikari.

“Gak usah liat punk, liat noh tukang soto gerobak di depan. Dia berdikari dan lebih baik begitu, tidak bergantung sama negara” kata Mike.

Ubedilah Badrun, Dosen Sosiologi Politik dan Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Negeri Jakarta mengatakan bahwa punk adalah kelompok anti kemapanan. Secara sosiologis mereka muncul sebagai kritik terhadap hegemoni kultural, ekonomi bahkan politik.

“Negara dengan kesenjangan sosial dan politik yang tinggi cenderung mudah ditumbuhi punk, meskipun hal itu bukanlah satu-satunya faktor utama” kata Ubedilah.

Ubedilah menambahkan, fenomena diterimanya Marjinal Taring Babi oleh masyarakat menandakan adanya perubahan sosial yang terjadi. Hubungan antar masyarakat tidak selalu dimaknai dengan simbol-simbol material. Pada kenyataanya masyarakat bisa menerima sekelompok punk yang berbeda dari karyanya yang konstruktif.

Terlepas dari definisi sosial dan politik tersebut, Marjinal masih memiliki banyak mimpi. Mereka masih ingin belajar banyak dari masyarakat dan menghasilkan karya untuk dinikmati bersama. Salah satunya adalah harapan dari Mike yang ingin sekali membuka peternakan sapi. Peternakan sebagai lahan yang dikelola bersama warga.

“Maka ke depan gue pikir, temen-temen mau bikin peternakan sapi, buat empang, atau kalo perlu buat pabrik. Semua itu kita akan buat dengan pola-pola yang berbeda dengan yang ada saat ini cenderung menindas dan mengeksploitasi. Pokoknya dikelola bersama warga” Kata Mike.

Dipandang sebelah mata Marjinal Taring Babi dapat bertahan. Meski hidup dalam kesederhanaan, kejujuran menjadi diri sendiri dan terus berkarya di tengah masyarakat yang menerimanya membuat identitas dan eksistensi sebagai punk tidak pernah hilang.

“Bisa diterima saja di tengah warga begini buat kami adalah sebuah kemenangan, apalagi diizinkan bebas berkarya, besar artinya buat kami.” Kata Mike menutup obrolan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s