Cerita dari pinggir rel dekat Stasiun Tanjung Priok

Pemukiman kumuh di pinggir rel dekat stasiun Tanjung Priok, Rabu, (11/9). Ini merupakan potret kemiskinan ditengah ibukota.

Pemukiman kumuh di pinggir rel dekat stasiun Tanjung Priok, Rabu, (11/9). Ini merupakan potret kemiskinan ditengah ibukota.

Pewarta: Alviansyah Pasaribu

Jakarta (Rumah Jurnalis) – Di balik tumpukan kardus bekas dan puluhan karung limbah botol plastik, Nina (5), Fathir (6) dan enam anak lainnya asyik bermain. Mereka berlari di pinggiran rel kereta yang hanya berjarak dua-tiga meter dari tumpukan kardus tempat mereka berdiri.

Rabu (11/9), terik matahari pukul sebelas siang tidak membuat mereka takut kepanasan. Klakson kereta menderu dari sisi sebelah kanan hanya membuat mereka menepi sejenak. Sekian menit kemudian rangkaian gerbong Bengawan melintas menuju Solo Jebres meninggalkan kepulan asap hitam untuk menemani Nina dan para sahabatnya bermain kembali.

Dua dari mereka masih menggunakan seragam madrasah. Sisanya ada yang mengaku belum bersekolah. Ada juga yang mengikuti pendidikan baca tulis yang diadakan kelompok pemuda setempat.

Diatapi terpal, kayu triplek dan beberapa lembar seng yang sudah berkarat serta dipagari puluhan karung limbah plastik dan tumpukan kardus, Nina tinggal bersama orang tuanya yang bekerja sebagai pengumpul barang bekas.

Sang Bapak sedang tidak ada dirumah semetara ibu Nina sedang membersihkan sekarung berisi kemasan minuman plastik bersama empat ibu yang lain. Sesekali Nina dipanggil untuk membantu ibunya. “Nina, sini nak bantu emak sebentar” kata ibunya sembari menggenggam pisau cutter, terlihat terampil. Nina tidak peduli, ia justru mengambil
ponsel Cina milik ibunya dan memutar lagu “Joged Cesar’ di depan teman-temannya. Mereka berjoged sambil tertawa.

Di sebelah gubuk milik orang tua Nina, seorang pria bertubuh kecil dengan muka tirus membuka pintu kayu yang penuh tambalan poster sambil membakar rokok. Dia menghampiri saya yang sedang asyik mencari sudut terbaik untuk mengambil gambar. Sembari menguap pria tersebut menyalami saya tanpa berkata apapun.

Rian namanya, pria berusia 37 tahun tersebut sudah tinggal di pinggiran rel lebih dari sepuluh tahun. Dia bekerja sebagai buruh tidak tetap di Pelabuhan Tanjung Priok. Rian meninggalkan anaknya yang sudah kelas 4 dan 1 SD di kampung halamannya, Cirebon. Penghasilannya tidak mencukupi untuk dapat membeli rumah di Ibukota. Istrinya pun masih harus bekerja membersihkan botol plastik untuk salah satu pengumpul barang bekas.

Di pemukiman ini, gang kedua dari stasiun Tanjung Priok, memang terlihat seperti perumahan mini para pemulung. Gerobak, tumpukan kardus, puluhan karung sampah plastik dan timbangan barang berjajar tidak beraturan di depan rumah mereka. Selain belasan pemulung, ada empat pengumpul barang bekas. Tiga diantaranya berasal dari
Madura dan sudah lima tahun membuka usaha pengumpul barang bekas. Sementara satu sisanya adalah Aca, 42 tahun, perantau dari Makasar. Aca baru membuka usaha pengumpul barang bekas pada awal 2013.

Sebelum ada empat pengumpul barang bekas, para warga pinggir rel yang bekerja sebagai pemulung menjual barang temuannya ke daerah Warakas. Kini pemulung disekitar Tanjung Priok bisa langsung menjual kepada empat pengusaha ini.

Dalam sehari biasanya Aca mendapatkan 140-200 kilo barang bekas dari 5-7 orang pemulung. Barang yang terdiri dari kardus, kaleng atau limbah kemasan plastik tersebut ditimbun dipinggir rel selama seminggu. Biasanya pada hari sabtu barang tersebut dibawa ke Bekasi untuk dijual kembali.

“Sehari dapat 140-200 kilo tapi kalo dijual ke bos Bekasi paling jadinya 500-700 kilo per minggu. Kan barangnya dibersihkan dulu, jadi beratnya menurun” Kata Aca.

Penghasilan pemulung sangat tidak tetap, tergantung sampah yang dihasilkan oleh warga sekitar. Bagi para pemulung di Tanjung Priok, sekilo kardus dihargai Rp 700- 1000 rupiah oleh pengumpul. Kemudian dijual kembali oleh pengumpul ke daerah Bekasi dengan harga Rp 1200-1300/kilo. Untuk limbah plastik dihargai Rp 3000- 3500/kilo oleh para pengumpul ini.

Tinggal di pinggiran rel memang bukan mimpi mereka. Biaya tempat tinggal layak yang tinggi dan minimnya pendapatan mereka membuat Rian, Aca, Nina, Fathir dan belasan lainnya terpaksa memilih tempat ini. Di pinggir rel dekat stasiun Tanjung Priok ini mereka tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Tidak bayar kontakan, listrik gratis langsung colok dari tiang listrik terdekat, air pun gratis dari sumur tanah buatan sendiri.

Untuk kebutuhan air mereka bergantung dari dua sumur tanah. Tuhan memang baik memberikan mereka sumur dengan air yang tawar padahal tak lebih dari sekilometer dari sumur tersebut adalah laut. Mereka andalkan sumur untuk keperluan mandi dan cuci. Sementara untuk kebutuhan minum mereka sudah dipasok air galon isi ulang.

Meskipun memiliki sumber air sendiri, mereka tidak memiliki fasilitas MCK pribadi maupun bersama. Jika mandi dan cuci bisa mereka lakukan di balik sekat teriplek di depan rumah mereka namun tidak untuk urusan yang satu ini. Pinggir rel, semak belukar dan kantung plastik yang nantinya akan dibuang entah kemana merupakan tempat mereka membuang ‘hajat’.

Biaya tempat tinggal yang sangat murah ini memang sesuai dengan pendapatan mereka sebagai pemulung maupun pengumpul. Untuk pemulung biasanya membawa 20-30 kilo dengan penghasilan rata-rata Rp 30-40 ribu perhari. Pengumpul pun sama, namun mereka menjualnya per minggu. Kebutuhan mereka sebagian besar untuk makan dan sesekali menabung untuk membeli ponsel murah dan peralatan memasak.

Penertiban memang jarang terjadi di lokasi yang berjarak tak jauh dari stasiun Tanjung Priok ini. Jika ada penertiban itupun hanya terjadi pada H-7 sampai H-1 mudik lebaran. Mereka mengaku sudah hafal dan mempersiapkan untuk pindah sebentar atau pulang ke kampung halaman. Mereka mengaku pasrah jika digusur karena tidak membayar apapun untuk tinggal di tanah itu. Tidak ada pungutan nakal dari pihak stasiun maupun Pol PP, yang ada hanya untuk jatah preman setempat sebatas uang keamanan.

“Preman minta lima ribu aja per minggu, katanya sih buat jatah aja, selain itu semua gratis disini, tidak ada pungutan dari orang kereta api. Pol PP juga gak pernah minta uang. Malahan tiap mau lebaran kami kena penertiban. Iklas aja, bukan
tanah kita juga” Kata Rian.

Sembari mematikan rokok kreteknya Rian pamit untuk kembali tidur. Sebagai buruh angkut pelabuhan dia bekerja malam hari dari sehabis maghrib hingga menjelang terbit matahari. Sembari menundukkan kepala untuk memasuki mulut pintu rumah yang tidak terlalu tinggi saya berikan pertanyaan terakhir. “Bang mau sampai kapan tinggal di tempat begini?”

“Kalo ngontrak saya ga mampu, dalam hati pengennya tinggal terus disini, tapi kalo nanti digusur saya iklas. Ini bukan tanah saya” Rian menjawab dan tersenyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s