Karut marut terminal Kampung Melayu

Jakarta (Antara News) – “Maju woy! Kampret!” kata seorang pengendara sepeda motor sambil membuka kaca helm tepat di muka Agus (43), pengemudi mikrolet M.26 yang sedang ngetem di bahu jalan Terminal Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (10/9). Perselisihan kecil itu kemudian disusul bunyi puluhan klakson kendaraan yang tersendat di belakang mereka.

Agus bergeming. Hardikan pengendara sepeda motor itu dianggapnya angin lalu. Dengan muka acuh, sopir berperawakan besar dan berkepala plontos itu kembali menghisap rokok kreteknya sambil berkata, “Kalau gak gini mana bisa saya dapet penumpang, Mas.”

Situasi itu hanyalah satu dari beberapa kesemrawutan kondisi lalu lintas di Terminal Kampung Melayu.

Diakui Kepala Terminal Kampung Melayu, Otto Samosir, terminal Kampung Melayu adalah terminal yang paling rumit di Jakarta. Dengan tata ruang penempatan di persimpangan jalan berbentuk segitiga dari arus keluar masuknya kendaraan, Kampung melayu sangat rentan menjadi pusat bertumpunya kemacetan lalu lintas.

“Jelas, ini masalah kedisplinan semua pengguna jalan,” kata Otto seraya menegaskan bahwa sumber kesemrawutan terminal Kampung Melayu tidak hanya bersumber dari salah satu elemen saja, seperti angkutan umum yang ngetem di bahu jalan, tetapi juga semua pengguna yang terlibat, baik pejalan kaki, bus Trans Jakarta, ojek, pengguna kendaraan pribadi, serta pedagang liar yang kadung numplek di sana.

Terkait dengan rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk merevitalisasi 18 terminal yang ada di Jakarta, termasuk Kampung Melayu, Otto mengaku, dengan sekelumit permasalahan tersebut, terminal Kampung Melayu merupakan pekerjaan rumah besar yang pembenahannya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Rencana pembenahan terminal itu sebenarnya bukan hal yang baru. Tapi kami menyambut baik keseriusan yang ditunjukkan Jokowi untuk mengatasi masalah ini,” kata Otto yang rencananya hendak mengikuti pertemuan seluruh Kepala Terminal di Jatibaru, Selasa, untuk membahas kelanjutan proyek pembenahan terminal senilai Rp 1,7 triliun itu.

Otto mengaku bahwa konsep untuk pembenahan terminal Kampung Melayu sebenarnya sudah rampung pada 2012, namun realisasinya mengalami hambatan seperti mandegnya dana dan adanya penolakan dari sejumlah pihak yang tidak menginginkan pembaruan tata ruang di terminal.

Desain revitalisasi untuk terminal Kampung Melayu yang ditunjukkan Otto memperlihatkan wujud baru terminal yang lebih modern dan sistem perlintasan yang baru seperti rombakan untuk pola sirkulasi arus kendaraan di kawasan terminal, koneksi platform halte bus way terpadu, pemasangan pagar pembatas untuk pejalan kaki, dan lorong underpass untuk mengakali arus pengguna jalan yang memotong jalur utama.

“Intinya,” kata Otto, “semua angkutan umum tidak bisa lagi ngetem sembarangan karena mereka akan terdorong arus kendaraan di jalur utama, pejalan kaki akan difasilitasi sarana agar tidak lagi mengganggu lalu-lalang kendaraan, dan koridor bus way akan memiliki trayeknya sendiri.”

Tapi rencana baik pemerintah itu tidak sepenuhnya mendapat tanggapan positif dari penghuni terminal. Agus, ditemani dua sopir mikrolet temannya, Edi (49) dan Wahyu (44), dengan lantang bersuara, “Wah renovsi sih renovasi, tapi kalo sopir sampe gak boleh ngetem, kita bakal berontak, Mas!”

Lain lagi dengan Yadi (56), pengemudi jasa ojek sepeda motor yang apatis menanggapi rencana pemerintah ini. “Ya kita mah dukung-dukung aja rencana pemerintah buat beresin Kampung Melayu. Kalaupun ojek gak boleh mangkal lagi, saya gak peduli. Lagian saya rencananya minggu depan mau pensiun ngojek. Cape, mas, udah 30 tahun gini-gini (ngojek) melulu,” kata Yadi sambil melambai-lambaikan tangan ke seorang penyeberang jalan, “Neng, Ojek neng!”

Dewi (23), mahasiswa yang ditemui setelah menyeberang jalan mengaku, “wah kalau bener jadi saya dukung banget, biar lebih ketata dan nyaman. Saya nyebrang jalan di sini susahnya minta ampun, belum diklakson sama pengguna kendaraan,” katanya, namun hanya bisa tersenyum ketika ditanya mengapa tidak menggunakan jembatan penyeberangan.

Otto mencatat, pada 2008 jumlah arus kendaraan yang berlalu-lalang di kawasan terminal Kampung Melayu mencapai 60.000 kendaraan per-hari. “Itu lima tahun lalu, lho. Mungkin hari ini sudah mencapai lebih dari 100 ribu kendaraan setiap harinya. Kalau gak dibenahi sekarang, mau sampai kapan seperti ini,” kata Otto.

“Dulu orang pernah bilang, sekejam-kejamnya ibu tiri lebih kejam ibu kota… tapi serumit-rumitnya lalu lintas di ibu kota, tidak ada yang lebih rumit dari masalah kesemrawutan di terminal Kampung Melayu,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s