Potret Buram Pelukis Kaligrafi Di Jaman Kemajuan Teknologi

“…jaman pager masih mending dah, pas semenjak ada hape pengguna seni kaligrafi makin berkurang..”

Kalimat itulah yang terlontar dari mulut Suherman ketika sesi studi wawancara tatap muka di Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara (LPJA). Pria berusia 45 tahun dan bertubuh gempal yang sebelumnya pernah bekerja di perusahan advertising ini sudah puluhan tahun menjajakan seni kaligrafi di bilangan Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Sejak tahun 1991 Suherman bersama dua puluh rekan pelukis lainnya menjajakan seni lukis di seberang Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Meskipun pernah berstatus sebagai mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) selama dua semester, Suherman mengaku bahwa keahliannya dalam melukis diperoleh secara otodidak. Untuk memulai usahanya beliau hanya mengeluarkan tiga ribu rupiah untuk membeli pena. Dahulu beliau sempat melukis pemandangan dan wajah namun prosesnya dianggap lama dan tidak praktis. Akhirnya Suherman memilih kaligrafi sebagai pekerjaan utama karena dinilai lebih cepat menghasilkan uang.

Pada jamannya profesi kaligrafi memiliki tempat tersendiri bagi para penikmat tulisan indah, kartu ucapan hari raya, kartu ucapan ulang tahun, beragam sertifikat maupun hiasan di dinding rumah. Di era tersebut Suherman bisa memiliki penghasilan tertinggi satu hingga dua juta perhari. Namun jika ditanya berapa rata-rata omzetnya perbulan beliau tidak dapat memastikan karena pendapatannya perhari sangat tidak tetap. Kadang ada sampai ratusan lembar, kadang tidak ada pesanan sama sekali.

Kehadiran telepon seluler memberikan dampak buruk bagi bisnis kaligrafi Suherman. Kemudahan dalam memberikan ucapan di hari spesial melalui SMS, BBM dan beragam aplikasi chat lainnya membuat kartu berukir kaligrafi dari pena Suherman tidak laku lagi. Begitupun dengan kemajuan teknologi digital printing yang memudahkan dalam mencetak sertifikat dengan berbagai model terbaru. Kini Suherman hanya bisa berharap dari beberapa pelanggan setia, jasa memperbaiki ijazah dan sertifikat yang salah cetak, meskipun masih ada pesanan kaligrafi yang tak banyak jumlahnya.

Dibalik kejayaan teknologi yang membuat bisnisnya menurun Suherman tetap bersyukur karena sudah bisa menghidupi keluarganya yang menetap di Beji, Depok. Anak sulungnya dikuliahkan di sebuah Universitas Swasta jurusan komputer dan putri keduanya sudah menginjak bangku SMP. Suherman bangga kepada kedua anaknya yang bisa memahami pekerjaanya sebagai pelukis kaligrafi. Terkadang beliau mengajak anak dan istrinya untuk ikut melihatnya bekerja di pinggir jalan. Suherman melakukannya untuk menciptakan keprihatinan bagi anak-anaknya tentang bagaimana seorang bapak mencari uang untuk keluarganya.

Beliau menyadari bahwa profesi sebagai pelukis kaligrafi di zaman teknologi memang semakin buram. Suherman masih memiliki kemauan untuk memajukan bisnisnya dengan bantuan anaknya yang kuliah di jurusan komputer. Beliau tidak memaksa anaknya karena seni itu bakat namun jika anaknya menginginkan Suherman siap membantu dan mengajarkan. Kita doakan saja.

Alviansyah Indra Wibowo Pasaribu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s